Keesokan harinya..
“Sakura, semangat ya!!” ujar teman-teman dari balik gerbang asrama seraya menggenggam tangan tanda memberi semangat. “Arigatou, Minna!!”
Aku berjalan agak lamban di belakang pengawas misteriusku. Ia berjalan di depan mengenakan jaket hitam yang menutupi seluruh tubuhnya, bahkan ia tidak memperkenalkan diri. Meski agak was-was, aku mencoba setenang mungkin menghadapi ini. Berkat teman-teman aku bisa di sini.
Aku mendongak. Childeria sudah di depan mata. Walaupun asrama ini luas, tapi aku membayangkan kengerian di dalamnya. Siswa-siswinya yang porak poranda dengan perilakunya. Oleh karena itu, sejak kedua asrama ini dibangun secara bersamaan _secara kebetulan_mereka sudah berseteru. Sampai sekarang pun aku belum tau dengan jelas apa yang dipermasalahkan.
“Nah, ini kelas yang akan kamu tempati selama studi di Childeria, High Class-B. Selamat bersenang-senang!” secepat aku mengalihkan pandangan, secepat itu pula orang itu pergi. Aku pura-pura tak peduli.
Aku sibuk menenangkan diri. Mengetur pikiran-pikiran burukku yang membayangkan penyambutan terburuk dari siswa-siswa Childeria di dalam kelas ini. Sreeek..!!
“Ohayou gozaimasu, Sakura~chan!!!” sapa penghuni High Class-B di sekitar pintu masuk kelas. Semuanya tampak ceria dan tak ada tanda-tanda yang bisa membuatku curiga. Dari belakang kerumunan itu, aku melihat Rora melangkah ke arahku, dan menyapaku.
“Ohayou, Sakura~chan! Selamat ya, kamu lolos ujian dan bisa ikut studi banding di sini. Meskipun sendirian, tapi, aku harap kita bisa bekerjasama. Mohon bantuannya!” ia menunduk. Aku celingak-celinguk. Lalu buru-buru berujar, “Iya, iya, Rora Senpai. Aku mengerti..”
“YEEEEAH!!!” setelah itu, suasana kelas berubah riuh dan ramai. Semakin aku menceritakan perasaanku saat mengikuti tes di Childeria, mereka semakin baik padaku. Aku cukup lega.
Pagi hari yang riuh dengan sapaan mereka membuat asumsiku pada mereka berubah sedikit demi sedikit ke arah yang baik. Memang mungkin sikap siswa di kelas ini baik. Hiruma, ketua kelas sekaligus ketua asrama Childeria, yang bijak dan humoris_meski kata Rora agak menyeballkan_. Rora, patnerku saat tes, yang ramah dan murah senyum. Raiko, pianis baru di kelas ini, walaupun tomboy tapi perhatian. Ruka, juara olimpiade sains, yang rajin dan penolong.
“Sakura~chan!!” panggil Rora di sudut ruang perpustakaan yang sedang kami kunjungi. “Ikut aku yuk…!”
“Hah? Ke mana?”
“Ada deh.. pokoknya asyik deh. Gak bakal nyesel kalo kamu ikut. Sekalian biar kenal sama anak sini.” Bujuk Rora sambil menarik lenganku.
Aku meletakkan buku yang aku pegang kembali ke rak, “Memangnya mau ke mana?”
Rora sudah menarikku sampai keluar ruang perpus. “Ke tempat latihanku.”
“Latihan? Rora mau latihan apa?” tanyaku penasaran.
“Ya, pokoknya tempat latihanku” lalu menambahkan,”Udah deh, gak usah banyak tanya, ntar kamu juga tau. Kan gak seru kalo aku certain sekarang. Ayo!!”
Berjalan menuruni tangga, sampai di lobi, masih menyusuri lorong menuju tempat yang semakin sejuk bila didekati. Seperti mau ke luar asrama. Tapi, ternyata berhenti depan sebuah ruangan yang terlihat mati dari luar. Seiring berhembusnya angin, aku mendengar samar-samar suara piano yang mengalun lembut dari dalam ruangan tsb. Begitu dibuka, suara tsb tiba-tiba menghilang.
Rora masuk duluan, aku menyusul agak belakangan.“Hey! Kau di mana? Jangan mempermainkan aku donk…!!”
Sejauh mataku beredar mengelilngi isi ruangan tsb, aku melihat seluruh sisi ruangan tsb berisi alat music lengkap. Mulai dari alat music tiup, petik, pukul, sampai yang menggunakan sumber arus listrik. Jadi, Rora itu penyanyi?
“Sakura~chan.. maaf ya, temanku yang satu itu memang agak menjengkelkan. Tadi itu hanya DVD miliknya yang diputar untuk pengantar tidurnya. Kalau sudah ku matikan seperti ini,” Rora menunjukkan sebuah kaset DVD di tangannya”pasti ia akan segera kabur. Maaf ya? Aku tidak bisa memperkenalkan mu dengan musisi terhebat Childeria.”
Aku mengangguk, “Iya, gak pa-pa kok..”
Petang pun datang…
Saatnya aku kembali ke Lordenia. Rasanya sudah tak sabar untuk beristirahat di kamar atau sekadar bercerita pada teman-teman tentang pengalamanku hari ini. Tapi…
Kok sepi? Aku mendongak, melihat jam besar di aula besar. Belum ada jam 6 tepat. Kok sudah sepi begini? Biasanya teman-teman masih berlalu lalang di sekitar sini. Kok tumben sepi..? batinku sambil menyusuri lorong-lorong menuju kamarku.
Saat mendongak, sekilas, aku melihat seseorang menutup pintu kamarku dengan keras. Aku mulai was-was. Siapa tuh? Berani-beraninya masuk ke kamarku selama aku tugas?buru-buru aku mempercepat langkahku menuju kamarku. Tanpa pamit, aku membuka pintu kamarku degan paksa. Ternyata…
“Minna~san!!” aku berteriak begitu melihat semua berkumpul di kamarku. Mulai dari Fiura sampai Erika. “Tumben kumpul di sini?”
“Nungguin kamu kan?” celetuk Sensei Hellen.
“Gimana di Childeria?” tanya Hikari.
“Ada yang jahilin kamu gak?” giliran Kyuushiro yang Tanya.
“Hey! Hey! Biarkan Sakura duduk dulu napa?” pinta Fiura _tumben baik_
“Hehehe~ gak pa-pa kok” aku lalu duduk di kursi yang paling dekat dg pintu.
“Jadi, gimana di sana? Enak gak?” tanya Erika melanjutkan sesi tanya jawab.
“Ya, gitu deh…”
“Hahahahahaha….”
Hari pun berganti…
Aku tidak lagi harus diawasi oleh pengawas misteius yg menyebalkan itu. Memang terasa sangat sepi dari hari sebelumnya, tapi tak apalah sedikit menenangkan pikiran.
Aku sudah bisa akrab dengan cepat dengan siswa High Class B, hari yang baru ini pun berlangsung lancer dan tak ada halangan suatu apapun. Tapi, begitu bel istirahat berdenting…
Dua orang siswa datang masuk ke kelasku tanpa pamit. Yang satu berperawakan tinggi dan berambut cokelat dan seorang lagi yang lebih pendek dan berambut pirang. Berdiri di depan mejaku. “Apakah kau yg lulus tes dari Lordenia?”
Aku bergidik, “Iya, memangnya kenapa?”
Yang berambut cokelat mencengkram tanganku dan menarikku, “Sekarang ikut dengan kami”.
“Hah? Ke mana?” tanyaku setengah panic sambil berdiri dan berusaha mempertahankan diri.
“Kau akan tau nanti!” ujar siswa yang lain.
Karena aku tak bias melepaskan diri, aku dibawa mereka ke suatu tempat dan menjatuhkanku ke lantai. “Aduuh! Kalian tu kasar banget sieh..?” protesku lalu berdiri dan membersihkan sikuku yang kotor.
Kedua siswa itu tidak menjawab tapi justru tersenyum sinis. Hawanya sangat tidak menyenangkan. “Sakura Senpai, bagaimana kabarmu hari ini?”
Aku berbalik. Ternyata.. “Jadi kau yang merencanakan semua ini?”
*_ Yume-o Part 4 _*
