“Senpai Sakura, mohon keluar dari barisan Anda.” jeda yang panjang membuatku merasa sangat khawatir, “Dan,, memang hanya Sakura yang lolos.”
“APA?”
Aku menoleh kea rah teman-temanku, barharap mendapatkan pembelaan dari mereka. Aku sangat berharap. Perlahan, telinga bergemuruh mendengar pembelaan mereka. Aku merinding.
“Apa-apaan kalian ini, hah?” teriak Fiura yang tiba-tiba sudah ada di sebelah kiriku. “Bukankah menurut perjanjian anggota dewan asrama yang diasramakan ada 2 siswa. Kenapa hanya satu? Apa kalian lupa?”
“Maaf sebelumnya, tapi menurut kami hanya Sakura yang lulus seleksi dari 3 aspek yang kami ujikan?” jelas Asahi tamapak berkuasa atas situasi kali ini. Padahal sebenarnya ia sedang didesak oleh Lordenia.
“3 aspek? Bukankah kalian hanya mengujikan tes tulis dan mengajar? Lalu apa maksudmu 3 aspek?” giliran Yuushiro yang meminta pertanggungjawaban.
“Oh, kupikir teman-teman Sakura akan cepat mengerti maksudku, tapi ternyata malah meleset 1800.” Sepertiya aku bisa meledak di sini, aku menatap Asahi dengan tatapan tajam. Sangat tajam sampai ketua OSIS menyebalkan itu mau segera menjelaskannya dan tutup mulut. “Baiklah, akan aku beritahu.”
Kami menungu!
“Tiga aspek tersebut adalah aspek yang kami nilai untuk menentukan siapakah yang akan kami ijinkan berasrama di sini. Ketiga aspek ini harus benar-benar seimbang, tidak boleh kalah di satu sisi. Yaitu, IQ, EQ, dan SQ.” jelas Asahi sangat jeli.
Teman-teman di belakangku mulai resah semaunya sendiri. Kyuushiro angkat bicara, “Tapi seharusnya itu tidak menjadi pemghalang kalian untuk tetap menepati janji, bukan?”
“Yah, memang seharusnya begitu, tapi memang hanya Sakura yang seimbang di ketiga aspek tersebut.” Ia masih keras kepala, “Dan saya tegaskan lagi bahwa keputusan kami tidak dapat diganggu gugat!”
Aku menoleh kea rah Fiura, ia terlihat sangat kecewa. Tapi, aku bisa apa? Apakah…? “Apakah ini asrama Childeria yang kalian banggakan?”
Ada yang berteriak. Aku, Fiura, dan bahkan seluruh siswa di aula mencari sumber suara tersebut. Aku kaget begitu menyadari Hikari yang telah berteiak di depan semua.
“Apakah ini asrama Childeria yang kalian banggakan?” Hikari berdiri di sebelah kananku. ”Apakah hanya ni kejujuran yang kalian punya? Kenapa kalian tega menghancurkan kepercayaan yang telah kami paksa berikan kepada kalian.”
“Aku tak memintanya.”
“Memang. Tapi apakah kalian tidak tau balas budi? Kalian tidak diajari sopan santun atau belajar menghargai orang lain? Hah?”
“Cukup!”
“Biarpun kami tidak sebaik yang kalian pikirkan, tapi kami masih punya nurani.”
“Cukup, Hikari!”
“Kalian harus tetap menghargai kami!!!”
“Sudah cukup, Hikari~chan!!!” bentakku pada Hikari sambil menghadapkan badannya padaku, “Kau sudah tidak perlu membelaku lagi. Aku sudah tidak ingin merepotkan kalian lagi. Sudah cukup. Aku mohon..” kutampakkan wajah memelas pada Hikari ia hampir mengucapkan sesuatu tapi Asahi jauh lebih cepat.
“Sakura saja tau.” Aku beralih menampakkan wajah sebal padanya. “Atau kalian mau aku permalukan di sini..?”
“Sudah Asahi!” aku memberanikan diri angakat bicara. “Aku besok akan ke sini sendirian. Itu maumu kan? Aku berjanji.” Jeda sejenak, “Sekarang, ijinkan kami beristirahat di Lordenia!”
“Baiklah, Senpai Sakura. Kau memang yang terbaik. Kalian pulanglah dan datanglah kembali besok, Sakura~chan!” ia mengangkat tangan kanannya lalu melambaikannya. Itu semacam penghinaan, umpatku dalam hati.
“Ayo, teman-teman. Kita kembali ke Lordenia. Dan akan memberitahukan tetang sejarah baru kita.” Aku berbalik sendirian. Mendapat jlaan terang dan diikuti oleh teman-teman. Aku cukup terpukul.
“Aku sangat terpukul. Aku bahkan tidak percaya mereka bisa berdusta sejauh itu.” Celetuk Kyuushiro di belakangku. Hikari, Erika, dan Inou sudah mendahuluiku di tengah jalan. “Mereka tidak merasa bersalah sedikit pun!”
Sepupuku mengajakku bicara, “Sakura~chan, kamu tidak apa-apakan?”
Aku menoleh tanpa berhenti melangkah. Ku sunggingkan senyum selebar mungkin berharap bisa mendukung jawabanku, “Aku baik saja kok. Tenaang saja, tidak perlu mengkhawatirkan aku.”
“Apa iya?”
“Tenang saja. Sakura pasti mau berjuang demi kita.” Sela Yuushiro, lalu Fiura menambahkan, “Juga demi Lordenia!”
Aku tersenyum makin tenang.
“Ganbatte, Sakura~chan! Berjuanglah demi kami dan Lordenia!!!” Kyuushiro mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi lalu diikuti teman-temanya. Aku juga. “Yo!!”
*_ Yume-o Part 4 _*
