Pagi yang ditunggu-tunggu telah tiba. Sang mentari seakan tersenyum memberi dukungan untuk kami. Selesai sarapan kami dikumpulkan di aula tengah lalu diberangkatkan dari sana (seakan-akan kami rombongan perang, yah..walaupun itu tepat). Letak Asrama Childeria ‘terhormat’ (nada mengejek) memeng tidak jauh dari asrama kami. Hanya berkisar 250 meter, itu pun karena kami menuruni lereng bukit, kami bisa lebih cepat sampai. Dan tanpa terasa, tibalah kami di depan penyambutan baik mereka.
Waktu tes di Asrama Childeria telah tiba…
“Ohayou gozaimasu, minna~san!!!” salam seorang laki-laki yang lebih mirip pemimpin di asrama ini. Mungkin iya? “Watashi wa Senpai Asahi desu, ketua OSIS di asrama ini. Selamat datang di Asrama Childeria!!!” ujarnya bersemangat.
“HAI!!!”
“Di sini saya mewakili rekan-rekan di asrama ini sangat berterima kasih telah terselenggaranya acara ini. Dengan acara seperti ini kita bisa saling mengenal satu sama lain dan sekaligus dapat memperbaiki diri kita masing-masing, memperluas pengetahuan dan pergaulan. Serta untuk mempererat persaudaraan kita” jeda sejenak “Nah, untuk menghindari kebosanan dan tidak terjadi kesalahpahaman dalam system tes di sini, akn saya beritukan peratuan tes kali ini.” Jelasnya mengawali ketegangan kami. Deg! Deg! Deg!
“Peraturan awal; masing-masing peserta akan dipasangkan dengan siswa dari asrama ini yang menjadi pathner mereka. Selain mengawasi, pathner juga bisa menjadi teman kalian selama tes ini. Adapun pasangan kalian adalah siswa yang ada di belakang kalian” secara serentak kami siswa Asrama Lordenia segera berbalik seakan-akan dikomando oleh atasan baru kami,”Baiklah, akan saya perkenalkan pasangan di depan kalian! Fiura-Himuno;Kyuushiro-Mako;Yuushiro-Ito;Havie-Souta;Hikari-Ruka;Sakura-Rora;Erika-Silver;Inoue-Raiko.”
“Itu pathner kalian. Peraturan dasar, ada dua kali tes yaitu tes tulis yang berlangsung hari ini dan tes mengajar untuk besok. Nah, setiap tes ruangannya tetap. Adapun seorang peserta akan di tempatkan di ruang yang berbeda dengan peserta yang lainnya. Jadi, kesimpulannya, di satu ruang hanya ada satu peserta” jelas Ketua OSIS itu yang membuat kami semua merasa benar-benar dijebak,”Tapi,kalian tak perlu resah karna kalian tidak sendiri di ruangan itu. Kalian bisa bersama dengan pathner kalian sambil mengobrol dengan mereka.”
“Nah, hanya itu saja peraturannya. Kalian bisa mengikuti pathner kalian untuk menuju ke ruang tes khusus untuk kalian. Selamat berjuang, Kawan! Ganbatte!!!” serunya dengan wajah sinis.
Selesai salam penutup yang mengerikan, kami semua seperti merasa diseret ke sebuah ruang untuk diisolasi. Kami mungkin akan sangat menentang jika kami bisa. Namun kami tak punya kuasa di sini…
Yang hanya bisa kami lakukan adalah berjuang sesuai kemampuan demi Lordenia…. Hanya itu satu-satunya dasar kami berjuang di sini. Dan kami akan melakukan apapun demi tujuan kami!
^_ Yume-o Part 3 _^
Malam harinya…
Ukh, pulang dari tes tadi kami langsung pencar dan sekarang masih banyak yang keluar. Mana aku gak diajak, jadi sepi. Oh, ya! Tadi di kamar Sensei Hellen juga gak ada. Pasti sama Erika dan Inoue lagi. Bisa bahaya kalau dibiarkan begini terus..
“Sakura~chan!!!” suara itu diiringi langkah kaki yang secepatnya ada di belakangku. Havie menyapa lagi, “Sakura~chan!!!”
“Ada apa? Kok buru-buru gitu kaya’ dikejar setan aja?” aku mengintip arah belakang Havie, aku segera merasa bersalah begitu tau Yuushiro datang jauh di belakang Havie dg tampang menyeramkan. “Heee…?”
Havie ikut menoleh ke belakang lalu kembali berkata padaku, “Itu kan Cuma Yuushiro~kun?” aku hanya mengengguk kikuk, “Sakura~chan, ajarin aku buat materi besok donk…? Aku kan belum pernah praktek mengajar selama di sini”.
“Haah?? Apanya yang harus aku ajarkan?” aku bingung tapi Havie menyela cepat, “Tapi kan kakak pernah ngisi jam kosong di kelas B dan C? Pasti bisa kan?” Heh!? ‘kakak’ katanya? Sejak kapan aku jadi kakaknya
“Hummm? Tapi kan kita gak tau apa yg akan kita ajarkan besok?” jawabku, “Tapi, setauku…selagi kamu bisa bikin suasana di kelas jadi kondusif dan aktif, pasti bisa nyaman ngajarnya.” Begitu sadar, aku melihat mata Havie seakan-akan bersinar dan aku baru saja memberitaunya prinsip cara mengajarku. “Hehehehe?”
“Begitu juga gak pa-pa kok” ujar Havie (sepertinya sudah puas).
“Minna~san!!! Yuu~kun! Havie! Sakura~chan!” teriak seorang siswa sambil berlari begitu melihat kami berkumpul. “Ngapain nih di sini aja?” Tanya ketua kami, Fiura. Sementara di belakangnya yg tertinggal adalah Kyuushiro, kakak Yuushiro.
“Gie nanya-nanya aja” jawab Havie sekenanya tapi jujur.
“Kok gak keluar aja?” giliran Kyuushiro yg introgasi.
“Males, akh!? Lagipula bingung mau ngapai di luar sana” jawabku sedikit ketus, aku agak kikuk kalau dikerubungi siswa-siswa ini. Auranya beda.
“Ya, udagh. Ikut kami aja yuk ke pasar raya di lembah” ajak Fiura.
“APA!?”-aku-; “IKUT!!”-Havie-; “Hmmm?”-Yuushiro- (bareng-bareng).
“??? Maksud kalian gimana nih?” Fiura bingung dg jawaban spontan kami. “Kalian mau ikut gak?”
“Ikuuut…!” ujar Havie memelas. Aku menyela, “Gak mau!!?”
“Kenapa? Kami kan tidak mengajakmu” seru Kyuushiro yg berhasil membuatku malu sekali. Akh, padahal di depan laki-laki semua?
“Ya, sudah aku pergi saja” ujarku sebal sambil berbalik pergi entah ke mana. Tapi baru beberapa langkah Fiura menahanku, “Hey, kamu gak ikut Sakura?” Aku menjawab ketus lagi, “Katanya gak butuh aku lagi?!”
“Aku kan cuma bercanda…” aku berbalik dan masih sempat melihat teman-teman menatap tajam pada Kyuushiro, kecuali Yuushiro yg hanya menatap dingin. “Gomenasai..”
“He?” aku tersenyum senang, sedikit lega. Tapi…”Tapi, masa’ aku cwe’ sendiri? Kan bisa bahaya.” Begitu mendongak mereka sudah melihatku tajam, aku keceplosan lagi…
“Kan kamu bisa ajak Hikari…” ujar Kyuushiro dan Fiura hampir bersamaan.
“??? Hmmm, iya juga ya...? aku panggil Hikari dulu ea?” secepatnya aku kabur ke kamar Hikari dan kakaknya. Tapi, ternyata mereka masih bisa mengutitku di belakang. Yagh, tak apa.
Meskipun awalnya Hikari menolak untuk ikut dg alasan ‘sedang belajar untuk besok’ tapi, bersyukur kami. Karena Sensei Haruki, kakak Hikari mau membujuk dan mengijinkan adiknya keluar bersama kami. Hahaha…. lagi-lagi kami menang!
“Nah, sekarang kita lari ke pasar raya. Siapa yg kalah harus traktir makan!” ujar Kyuushiro dan segera lari secepat kilat. Diikuti Havie dan Yuushiro. Kali ini, Fiura yg di belakang dan sedikit memberi semangat pada kami, “Walaupun kalian perempuan, jangan mau kalah sama kami” tapi setelah itu, Fiura pergi juga.
Meskipun kami tak yakin bisa menyusul mereka tepat waktu, aku dan Hikari hanya berusaha berjalan secepat kami bisa.
Sampai di depan gerbang, mereka sudah menunggu dan segera menceramahi kami serta menagih hutang. Tapi, dewi fortuna sedang berada di pihak kami. Fiura yg kena hukuman.
“Yah, gak pa-pa, sekali-kali beramal untuk teman-teman” kata Fiura beralasan. Lalu kami berkeliling sesuai kemauan Fiura (soalnya yg ngajar + nraktir Fiura).
Aku berjalan di antara Yuushiro dan Havie, mereka mengawasiku. Sementara Hikari di depan dengan Kyuushiro. Fiura hanya mengurus dirinya sendiri. Ramai sekali pasar raya ini. Padahal biasanya gak seramai ini. Lhoh, itu…?
“Inoue? Erika? Dan…siapa laki-laki itu?” seruku, diikuti tolehan teman-teman yg penasaran dg apa yg aku lihat.
*_ Yume-o Part 3 _*