“Berdasarkan permintaan anggota dewan Ars. Childeria, mereka menginginkan beberapa siswa dari asrama ini utk dibimbing di sana. Nah, utk mengikuti bimbingan di sana, mereka akan mengadakan tes IQ utk kalian.” Jelas Master. Angin seakan berhenti mendengar kabar dari Master yg sangat mengagetkan. ”Tes ini sekaligus akan mempermudah kalian untuk mendapatkan kelas yg lebih tinggi di sini. Tes IQ tersebut juga merupakan salah satu tes untuk naik ke Kelas Q.”
“Apa aku gak salah denger?” komentar Kyuushiro pelan pada Fiura yg ada di depannya. “Kalau ini benar, berarti selamanya aku akan di Kelas A donk? Aku gak mau ini terjadi!”
“Tenanglah. Jangan terlalu dipikirkan! Slow down, Kyuu!” hibur Fiura namun dg raut wajah yg masih setengah khawatir.
“Halah! Kau juga khawatir kan?” goda Kyuushiro.
“Kagak tuch..!!?”
“EHEM!!” Master berdeham menyadari ketua kelasku begitu gusar. Menyadari dirinya ditegur, Fiura segera mengalihkan perhatian ke depan dan diam dg sikap sempurna. “Saya lanjutkan.”
“Maka dari itu, khusus besok kalian akan diliburkan masuk kelas pelajaran seperti biasa. Namun saya harap kalian mau belajar di perpus untuk mempersiapkan diri, agar tes besok lusa bisa sukses. Saya percaya pada kalian. Tolong jangan kecewakan asrama kita. Kalian berjuang demi kalian sendiri dan nama baik asrama kita.” Terdengar seperti ending dalam pengumuman beliau.. “Kalian boleh kembali ke kelas. Selamat berjuang dan semoga sukses!” Master berbalik lalu beranjak pergi meninggalkan kami.
Aku dan teman-teman bergegas pergi meniggalkan lapangan dg Fiura sebagai pemimpin. Namun sepanjang perjalanan ke kelas mereka terus mengeluh tanpa henti. “Apa iya mereka mengadakan tes IQ untuk kita? Bukankah itu diluar apa yg kita pelajari? Bukankah itu curang namanya?”
“Sudahlah tak apa kan? Toh, tes itu juga ada manfaatnya untuk kita. Kita bisa segera naik kelas kan?” seru Yuushiro menenangkan suasana.
“Diamlah kau, Yuu!” gertak Kyuushiro hingga Yuushiro tak mampu menjawab. Mungkin dalam hatinya ia bilang, ‘Iya Kak’ atau ‘Iya’ saja karna selama ini aku tidak pernah mendengarnya menganggil Kakak.
Secepat bunyi, Fiura masuk kelas dan mulai memukul meja. BRUUK!! Dan Inoue selalu menyambut dg latahannya yg bermacam-macam. ”Kita harus bertindak!”
“Bertindak apa Kapten?” Tanya Havie dg gaya bahasa bajak lautnya. Fiura menoleh padanya dg wajah menyeramkan hingga Havie memutuskan untuk duduk di sebelah Yuushiro. “Makanya jangan cari masalah saat ketua sedang marah.” Ujar Yuushiro menasehati. “Iya. Aku baru tau tentang itu sepertinya.”
“Kita mungkin dijebak oleh mereka. Mungkin mereka akan meremehkan kita kalau kita sampai tidak lulus tes itu sesuai keinginan mereka. Asrama ini mungkin akan dipermalukan oleh mereka.” Ujar Fiura berorasi.
‘Aku suka sikap Fiura yang seperti ini’ ujarku dalam hati. Aku menoleh ke bangku belakang dan melihat Inoue dan Erik beranjak kelua kelas tanpa pamit. Kamudian bergegas Hikari menggantikan posisi mereka duduk di bangku paling belakang yang dekat dg pintu. Aku pun juga turut. Dan, siswa-siswa masih saja mengatur siasat untuk besok lusa. “Bla_bla_bla_bla_”
“Baiklah kalau itu mau mereka, kita terima tantangan merek dan berjuang untuk asrama kita. Ganbatte, minna~san!” teriak Fiura mengakhiri orasinya.
‘Akhirnya selesai juga…’ keluhku sambil menyamankan posisi punggungku. “HEI, SAKURA!” Aku menoleh ke depan dan menyadari bahwa itu tadi panggilan dari ketua. “Hm?”
“Besok lusa jangan pelit-pelit ya? Kau juga harus berjuang untuk asrama ini! Dan bantu kami pula ya?” pinta Fiura dg raut menggoda.
Aku menoleh ke bangku Hikari yg sudah tak berpenghuni, aku segera berdiri dan menjawab. “Ya, terserah kalian.” Lalu aku bergegas keluar.
“Tuh orang kenapa?”
^_ Yume-o Part 2 _^
Malam harinya, aku ceritakan semua uneg-unegku pada Sensei Hellen walaupun sebenarnya belum tentu Sensei Hellen mendengarkan seluruh ceritaku. Aku tak peduli aku sedang berdongen pada siapa asalkan aku bisa tenantg setelah itu semua.
“Anehnya, kenapa ya tadi kok tumben Senpai Fiura mau ambil bagian ngrapatin hal kaya’ gitu? Padahal biasanya gak peduli sedikit pun” ocehku pada buku pelajaran di tanganku.
“Ya gak pa-pa dong!? Itu kan kemajuan.” Jawab Sensei Hellen yang menurutku itu pertanda bahwa ia benar-benar tidak emnyimak ceritaku.
Tak lama kemudian terdengar pintu kamarku terketuk dari luar dan tak lama setelah itu, pintu kamar terbuka dari luar. Muncul di balik pintu itu ada Erika dan Inoue yang hanya menampakkan kepalanya saja. “Konbanwa gozaimasu…”
“Konbanwa.” Jawab aku dan Sensei Hellen singkat. Lalu aku kembali mencoba focus untuk belajar sedangkan Sensei Hellen menyambu baik tamu rutinnya itu.
“Sensei, aku kasih tau ya.. ternyata Inoue itu…. Masa’ sampek….. bal_bla_bla_” ocehan malam Erika membuat ku merasa tidak sampai yakin menjalani tes lusa. Sementara itu, Inoue yang jadi bahan perbincangan hanya tersenyum bangga menyadari dirinya jadi artis bahagia di balik tirai.
Sejenak kemudian aku memberanikan diri untuk belajar di luar. Sensei Hellen sempat menanyaiku tapi hanya aku jawab santai. “Mau ke mana Sakura?” segera aku jawab sambil membuka pintu plus bernada dingin, “Belajar sambil mencari udara segar.” Untung saja mereka selalu menjawab “Ooohh??”
Huuuuuufffft!!?
Aku benar-benar merasa lega begitu bisa keluar dari kamarku yang sedang pengap oleh cerita cinta yang melewati batas. Aku paling benci saat seperti ini. Akhirnya aku mengalihkan diri menyusuri lorong sendirian sambil mencari tempat yang nyaman untuk belajar. Dan aku segera mendapatkan tempat yang cocok, bangku di lorong dekat ruang makan.
Nah, barulah aku merasa yakin dan bisa sukses untuk ujian lusa. Beberapa bab tinggal mengulang sementara yang lain hanya kurang sedikit. Kira-kira 30 menit setelah aku merasa benar-benar konsentrasi, ada suara yang mampu mengagetkan ku.
“Wah, apa gak pa-pa kalo perempuan sendirian di malam yang larut seperti ini?”
Aku mendongak dan segera mengetahui siapa tuan suara itu, Kyuushiro pemiliknya. Di sebelahnya berdiri dengan sangat tenang adiknya menunggu jawabanku atas keusilan saudaranya. “Ya gak pa-pa dong! Buktinya aku gak kenapa-napa kan?”
“Gak takut kedatengan hantu ya?” Tanya Kyuu makin melampaui akal mansia.
“Ya ampun.. Hari gini masih percaya hantu? Cape’ deh!” jawabku spontan sambil meletakkan telapak tangan kananku ke dahi. Yuu yang biasanya gak bisa senyum tiba-tiba segera berbalik dan menahan tawanya.
Kyuu yang bingung segera bertanya (takut dikira ‘ngoh’),”Heh! Apanya yang lucu sih? Kok ketawa? Yuu!”
“Gak ada, Kyuu.” Jawab adiknya dengan nada amat memelas dan segera duduk di bangku depanku. Kyuu menyusul lalu kembali bertanya. “Kalo gak ada yang lucu kenapa ketawa?”. Tapi Yuu segera mengelak, “Aku gak ketawa kok!”
Hihihi…J
“Hayo! Itu suara siapa? Gak tampak tuh…” Kyuu segera was-was sementara Yuu hanya menjawab, “Itu tadi tawanya Sakura”. Jawaban itu membuat aku langsung diam dan meng’iya’kan penyataan Yuu tadi.
“Healah…….???”
Selama setengah jam lebih kemudian kami semua konsentrasi belajar, tapi begitu lonceng sekolah berbunyi sembilan kali, Kyuu buru-buru mendongengi kami. “Tau gak, tadi Fiura kena senjata yang dibuatnya sendiri lhoh..”
“Lha kok bisa?” sela Yuu menambah efek mendramatis.
“Kan tadi ceritanya selesai nyuci, Fiura mau minum teh. Trus dia buat teh. Nah, pas itu aku baru masuk. Lha kok tiba-tiba Fiura marah sama aku. Katanya aku sengaja naruh deterjen untuk pengganti gula. Padahal aku bener-bener baru masuk kamar tapi Fiura langsung menghujani balasan deterjennya sendiri.”
J “Hihihi… hahahahaha….” Aku dan Yuu benar-benar tertawa mendengar cerita menggelikan dari Fiura. J
“Aneh, kenapa bisa menyalahkan orang lain kalau yang membuatnya sendiri itu dirinya sendiri.” Seru Yuu disela-sela tawanya.
“Mungkin karena ia stres untuk mempersiapkan diri untuk tes lusa.” Pendapatku juga mengalir begitu saja di sudut-sudut ceriaku.
Hahahaha…
Sepanjang sisa waktu itu sampai hampir pukul sepuluh, kami terus tertawa sepuasnya. Saat ini aku merasa senang bisa akrab dengan Shiro bersaudara.
^_ Yume-o Part 2 _^
Keesokkan harinya….
Aku bangun sepagi mungkin untuk berangkat ke perpus dan mencari ketenangan untuk belajar. Tapi, yang aku dapt justru aku yang mengajar. Havie dan Shiro bersaudara memintaku menjadi guru kilat mereka. Aku benar-benar kaget begitu dicegat Havie pagi tadi. Untung saja Hikari yang sudah di perpus sejak subuh tidak merasa risih ataupun cemburu.
“Lagipula, kenapa sih mesti aku yang dicegat?” keluhku disaat aku suruh mereka untuk mengerjakan soal yang mudah.
“Habis, kata Havie kamu tu pinter. Ya udah,aku sih nurut aja. Asal besok bisa lulus.” Jawab Kyuu sekenanya.
“Lu juga sih, Yuu! Kenapa sih kok gak ngajak mereka belajar sendiri.”
“Apaan sih terserah kami dong maunya diajari atau belajar sendiri. Toh,kamu juga gak keberatan?” elak Yuu.
“Kapan aku bilang gitu?”
“Halah, gak usah pura-pura deh. Bukannya kemarin kamu nyanggupin buat bantuin kita? Jangan sok amnesia gitu deh..” jelas Yuu meski matanya hanya terus mengarah pada buku.
“Kapan?” aku masih belum menyadari kalau aku pernah mengatakannya.
“Kemarin pas di kelas trus ditegur Fiura, habis itu kamu langsung kabur.” Giliran Kyuu yang menyambung penjelasan Yuu.
“Oooooh??” jeda sejenak, “Tapi waktu itu kan aku gak ngerti pokok permasalahannya apa?”
“Alah sudah. Yang penting sekarang balik belajar. Kasihan tuh Havie kesulitan cari jawabannya sejak tadi.” Sela Yuu membuat Havie jadi linglung. “Apa?”
Hehehe~ aku hanya mampu tertawa dalam hati lalu aku kembali memberi privat pada mereka. Selama kurang lebih 2 jam, tapi aku juga sambil mencari tambahan materi. Hanya saja ada yang aneh? Aku melihat Fiura juga sedang mencari buku yang diinginkannya. Tapi, aku tidak melihat Erika atau Inoue di perpus. Benar-benar aneh.
Akhirnya aku keluar dari perpus untuk sekedar penyegaran. Tapi aku berhenti di depan kelas Q, kelas yang nantinya juga akan kami tempati. Tiba-tiba Sensei Haruki, kakak Hikari, muncul dari balik pintu. Dan begitu menyadari aku di depanya, ia segera menyapa. “Sakura? Sedang mencari Sensei Hellen ya?”
Aku yang kikuk hanya menjawab sekenaku saja, “Iya.”
“Hem? Tapi, Hellennya lagi gak masuk hari ini. Aku aja mau cari kamu buat tanyain di mana Hellen?” jawab Sensei Haruki yang berhasil membuat ku makin curiga dengan mereka bertiga.
“Aku kurang tau. Aku pikir Sensei Hellen ikut tes mengajar, ternyata malah gak masuk ya?” seru ku jujur dan masih bingung.
“Ehm, rencananya sih emang hari ini tesnya tapi ditunda karma anggota dewan asrama banyak yang ngurus tes untuk kalian besok.Ehm, rencananya sih emang hari ini tesnya tapi ditunda karna anggota dewan asrama banyak yang ngurus tes untuk kalian besok” jeda sejenak “Oh, ya. Kami dari kelas Q akan dukung perjuangan kalian. Makanya jangan sampai kecewakan kami ya?”
“He’eh! Ya,sudah dulu ya Sensei. Aku harus segera kembali. Arigatou.” Secepat mungkin aku berusaha pergi. Di jalan, pikiranku benar-benar melayang…
Ada apa dengan mereka bertiga? Ketiganya tiba-tiba menghilang dan tidak ada di asrama ini. Kira-kira mereka ada di mana. Kenapa mereka seperti sedang berjalan di jalan air bawah tanah. Kotor.
Aku kembali ke perpus dan berharap agar hari segera berganti.
“Ohayou gozaimasu,minna~san! Selamat datang di Asrama Childeria!!”
*_ Yume-o Part 2 _*
