KISHUKUSHA no YUME
MOSHI-MOSHI... Namaku Sakura.
Aku adalah seorang dari delapan siswa di Kelas A, Asrama Lordenia. Aku sudah di sini sekitar satu tahun yang lalu tetapi levelku sudah hampir memasuki Kelas Q, hanya saja tanggal tesnya belum datang. Aku dan teman-temanku yang masuk asrama ini, nantinya akan disiapkan untuk menjadi guru muda di bidang psikologis terutama SQ. Hem? Mungkin tidak menarik, tapi memang itulah yang harus kami lakukan. Dan sasaran utama kami adalah Asrama Childeria, lokasinya memang tak jauh dari asramaku, tapi siswa-siswinya yang perlu banyak bimbingan, itulah yang dikatakan kepala sekolahku saat aku baru masuk kelas A.
Hanya saja, kelas A yang sekarang hanya berjumlah delapan siswa, kurang dari yang diharapkan. Itu pun sudah susah diatur. Benar-benar buruk. Sekarang saja, waktu sudah hampir pukul tujuh kurang lima menit tetapi yang datang masih empat siswa, semuanya perempuan. Aku hanya dapat melihat teman-teman sambil berpikir entah kemana, satu di depanku sedang mempelajari bab yang akan dibahas nanti, sementara dua lainnya mengobrol di bangku paling belakang.
Sejenak kemudian Hikari yang duduk di depanku sejak tadi beralih menghampiriku. “Sakura, yuk panggil teman-teman kita! Masa’ sampek jam segini mereka belum datang? Kan malu-maluin kalo guru datang yang masuk hanya sekian siswa. Yuks!!” serunya sambil menarik lenganku erat-erat. Hikari memang rajin dan care tapi terkadang ia suka manja. Aku berdiri dan selalu menjawab, “Iya.” Dan setelah jawaban itu keluar dari mulutku, Hikari akan memohon dg amat, “Tapi yang ngomong kamu ya?”. Lalu aku berdiri dan menjawab seperti apa yang ia inginkan,”Ya”.
Aku menoleh sejenak ke bangku belakang yang masih ramai dg tawa tak jelas dari Inoue dan Erika, lalu berjalan ke pintu. Aku tidak merasakan ada yang datang saat aku mulai memegang handle pintu, hanya saja aku merasa sangat ringan menggesernya. Dan begitu pintu terbuka, di depanku, ada siswa-siswa yang hendak aku panggil. Tepat di depanku, Yuushiro menampakkan wajah datarnya, disampingnya sepupuku, Havie memperlihatkan senyumnya setelah tertawa dg Fiura dan Kyuushiro yang ada di belakang. Aku yang masih shock, hanya terdiam beberapa detik lalu mulai memarahi mereka.
“Apa-apaan sih kalian ini? Udah jam segini kok baru datang? Jam kalian mati apa? Atau kalian gak niat masuk? Hah?”
“Minggir! Jangan menyemburkan api di depanku! Gak sopan tau!” ujar Yuushiro ketus sambil menerobos masuk, diikuti Havie dan Kyuushiro. Fiura yang masuk paling akhir, menjawab kekesalanku tadi. “Iya, gak pa-pa kan?”
“Wah, apa itu yang namanya ketua kelas A?” ejek Hikari yang masih bersembunyi di balik punggungku.
“Itu salah sendiri kenapa milih aku. Itu dia resikonya milih aku!” seru Fiura santai lalu menjenakkan diri di bangkunya yang terhormat.
“IIIKH!!!” keluh Hikari sebal dan hampir saja ia memukul Fiura, untung saja bel berbunyi tepat saat ia dibutuhkan. ‘Huuufft!’ tapi di belakang… Inoue melatahkan dirinya lagi?? Sebenarnya aku benci dg orang latah, tapi bagaimanapun Inoue ia masih tetap ditakdirkan sebagai bibiku (posisinya setara dg ayahku, Ibunya Inoue adiknya nenekku).
Tepat saat aku baru saja selesai menata posisiku, Sensei Lecy masuk.
“Ohayou gozaimasu, minna~san!!”
^_ Yume-o Part 1 _^
Bel berbunyi untuk memenuhi hasrat kami untuk makan siang… “Waktunya makan siang!” terdengar suara siswa kelas B yang ada di sebelah kelasku. Mereka terdengar riang sekali, tapi itu bukan suara adikku… Lebih seperti suara adik Sensei Hellen, siswa kelas Q yang sudah aku kenal sejak aku masih di kelas B dan sekarang menjadi teman sekamarku.
‘Huaahhh!!!’
Aku amat lelah gara-gara pelajaran tadi membahas cara menangani orang bermasalah. ‘Seharusnya itu terserah yang dicurhati ia membantunya dg apa? Kenapa harus dipermasalahkan??! Semua orang kan punya style sendiri-sendiri dalam menyelesaikan masalahnya?’ keluh ku amat keras dalam hati, sampai batin ku sakit.
“Sakura, kau kenapa?” suara itu memaksaku menoleh dan memperlihatkan wajah yang penuh dg protesku. “Akh, gitu aja kok dipikir.” Selalu itu yang ia katakan saat aku terkena masalah.”
“Sensei Hellen gak tau sih….???”
“Iya tapi kan gak perlu sampai dipikir segitu seriusnya kale..” ia lalu meletakkan nampannya kemudian duduk di sebelahku.
“Sensei Hellen!!” panggil Erika sambil senyam-senyum sendiri tanpa diketahui sebab-musababnya.’Akh, mualai lagi deh…?’ Aku berdiri lalu bermaksud mengambil makan siangku. ‘Mereka benar-benar membuatku mual’.
“KAKAK!!!” teriak Sasuke dan Satsuki dari kelas B dan C. Keduanya adlah murni adik-adikku. Aku melambaikan tangan. Setidaknya mereka bisa menghiburku.
Setelah nampanku penuh, aku kembali berkumpul dg teman-temanku. Pembicaraan Erika, Inoue, dan Sensei Hellen sepertinya sudah selesai. Giliran aku mencoba menggali info dari Sensei Hellen, tapi ternyata Hikari mendahuluiku.
“Sensei, waktu Sensei dulu di kelas A, tes masuk ke kelas Q bagaimana?”
“Humm? Gimana ya..? Ya, biasa aja sih. Yang keluar dalam ujian cuma yang udah dipelajari aja kok.” Jawabnya santai.
“Ujian? Ujiannya ujian tulis ya?” Tanya Inoue ikutan nimbrung.
“Gak juga. Ada ujian prekteknya juga kok!” Sensei Hellen melahap makanannya lagi.
“HAAH!!?” seru Erika dan Inoue seakan mereka belum siap untuk tes ‘memang belum waktunya tes kan?’.
“Trus Kakak gimana lulusnya?” Tanya Hikari ingin tau lagi.
“Hem? Ya, gak gimana-mana sih. Eh, kenapa kamu gak tanya Kakakmu sendiri? Kan Kakakmu juga selevel dg ku?” Tanya ballik Sensei Hellen, seolah-olah ia sudah lelah berbicara sejak tadi.
“Iya sih. Tapi Kakak jarang cerita kalo soal itu.” Jawab Hikari memelas.
“Owwh??” gumam Sensei Hellen, “Oz, tapi sepertinya tahun ini ada yang berbeda dg system di kelas kalian.”
“Hah?” Erika dan Inoue kaget lagi. ‘Uhuk! Uhuk!’ aku pun tersedak, tapi Hkari tidak bereaksi. “Apanya yang berbeda? Bukannya system pengajarannya sama dg generasi sebelumnya?” Inooue bertanya penasaran, ia tak mau tertinggal di kelas A.
“Ya memang system pengajarannya sam, tetapi tes ke kelas selanjutnya itu ada sedikit yang berbeda. Itu yang ku dengar dari Kakakmu, Erika.” Jelasnya sambil menunjuk Erika dengan sorotan matanya. Tapi Erika justru hanya tersenyum. Iya, aku tau kalau ayah Erika adalah salah satu anggota dewan asrama bagian kurikulum.
“Tesnya seperti apa?” Tanyaku setelah selesai menghabiskan makan siangku. Tapi bel keburu berbunyi padahal waktu masih kurang sepuluh menit untuk melanjutkan pelajaran.
“DIBERITAUKAN UTK SISWA KELAS A UTK BERKUMPUL SKRG JUGA DI AULA!” gema suara itu menggetarkan gendang telinga.
Brak!!! Fiura berulah lagi. Meja di depannya, ia pukul sampai tangannya memerah. “Dasar, ceroboh!” seruku pelan sambil mengembalikan nampan makan siangku. Lalu aku dan teman-teman (yang dipimpin Fiura, dg sangat terpaksa) berjalan ke aula.
Sesampainya di sana, kami berbaris dua saf karma saking sedikitnya siswa di kelas kami. Setelah anggota dewan merasa kami sudah tenang, ketua anggota dewan asrama keluar dan bersiap utk mengumumkan sesuatu yg membuat kami was-was.
“Konichiwa gozaimasu, minna~san!”
“Konichiwa gozaimashita, Master!”
“Tanpa membiarkan kalian berpanas-panasan lebih lama lagi, akan saya umumkan beberapa hal yg penting. Berdasarkan permintaan anggota dewan Ars. Childeria, mereka menginginkan beberapa siswa dari asrama ini utk dibimbing di sana. Nah, utk mengikuti bimbingan di sana, mereka akan mengadakan tes IQ utk kalian.” Jelas Master.
“Tunggu! Apakah aku tidak salah dengar? Tes IQ? Itu kan keluar dari apa yg biasanya kita pelajari?” bisik Erika pada Inoue yg berdiri di sebelahnya. “Entahlah?” ‘Tes IQ? Apa-apaan mereka ini? Apa mereka bermaksud utk menjebak kami?’
*_ Yume-o Part 1 _*
